Buku tak mungkin mendatangkan
aura magis jika anugerah kemampuan membaca tak diraih. (Page 6)
Buku di mana kita berjumpa
dengannya secara spiritual menjadi pelita yang menerangi pikiran-pikiran muda
atas lingkungan hidup dengan segala ceritanya. Buku adalah kekayaan yang
mengintervensi imajinasi. Tentu saja, bukan untuk berbeda, tapi untuk tahu dan
meledakkan kreativitas, serta menimbulkan keberanian. (Page 10)
Jika tidak bisa ke luar negeri
karena minim biaya, di dalam negeri juga tidak masalah. (Page 32)
Pada 1970-an, banyak kritik
masyarakat bahwa komik tidak mendidik bahkan berbahaya karena dianggap bisa
membuat anak-anak malas membaca. Tapi, sebagai seorang ayah, Atma tetap
membebaskan anak-anaknya membeli dan membaca komik apa pun, baik komik
indonesia maupun jepang, asalkan anaknya suka. Ia tidak melihat buku komik
berbahaya atau tidak edukatif, apalagi membuat anak-anak tidak suka membaca. Terbukti,
semua anaknya sekarang suka membaca, walaupun mereka beralih ke cyber media. Itu
soal pilihan kepraktisan saja. Bagi Atmakusumah, yang terpenting anak-anaknya punya
budaya membaca. (Page 32 – 33)
Dari pengalaman seperti itu,
Atmakusumah berpendapat tidak sepantasnya kita melarang buku, seburuk apa pun
buku itu. Buku yang buruk perlu dikritik dan diperdebatkan secara terbuka,
dicari apa yang salah dari buku itu. (Page 36)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar