Kehadiran Ainun yang mendampingi saya selama 48 tahun 10 hari, telah menjadi api yang selalu membakar energi semangat dan jiwa saya menjalani hidup ini dan sekaligus air yang sewaktu-waktu menyiram dan meredahkan gejolak jiwa saya hingga kembali tenang. (Page X)
Dengan menulis buki ini ibarat BJH menceritakan kembali secara jujur dan faktual mengenai kehidupan rumah tanggamya bersama HAH (Hasri Ainun Habibie) selama 48 tahun dan 10 hari (12 Mei 1962 s.d. 22 Mei 2010), (Page XV)
"Di mana Ainun berada saat ini?", "bagaimana keadaannya?", dan "bagaimana BJH dapat terhubung dengan Ainun?". Pertanyaan-pertanyaan ini BJH jawab dengan melakukan "dialog diri" dengan memanfaatkan pengetahuan, pengalaman dan keyakinannya. (Page XVIII)
Entahlah, yang jelas kita lalu berpacaran; malam-malam hari di dalam becak dengan jok tertutup walaupun tidak hujan. Kami pacaran di Bandung. Kami pacaran di Jakarta; (Page 10)
Kami memiliki waktu kurang lebih 2 minggu untuk nyekar ke Makassar dan berbulan madu di Bali - Yogja. (Page 16)
Jika saya lelah, Ainun selalu menyapa dengan senyuman dan pandangan mata yang memukau dan saya rindukan selalu. (Page 23)
Ia (Ainun) tidak pernah mengeluh karena tidak kebagian waktu. Ia mengisi waktunya dengan menjahit, untuk anak kami yang sedang dalam kandungan. (Page 25)
Buku, makalah dan majalah ilmiah saya bawa ke rumah dan bertaburan di lantai atau di tempat tidur. Ainun tidak pernah merubah letak bahan riset saya yang sering letaknya tersebar di mana-mana. (Page 28)
Jikalau saya harus membantu Professor Ebner atau memberi kuliah, maka saya datang ke Institut Konstruksi Ringan. (Page 31)
Dengan semangat, motivasi dan diilhami oleh Ainun produktivitas kerja saya terus meningkat dan semua berjalan lancar. (Page 33)
Ainun kembali menulis catatan dalam buku A.Makmur Makka (SABJH) hal. 382, sbb:
"Tahun 1965 ia Dr.-ing. Tahun itu juga memperoleh pekerjaan di Hamburg. Gaji bertambah. Dan impian kami berdua selama bertahun-tahun terwujud : kami beli sebuah mesin cuci. (Page 39)
Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji Pusaka dan Sakti
Tanah Tumpa darahku makmur dan suci
.......
Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa Besar dan Suci
Membawa aku PADAMU! (Page 42)
Hanya dengan bekerja keras, saya dapat atasi persaingan saya menghadapi teman-teman saya yang berbakat pula. (Page 52)
Terima kasih Allah. (Page 57)
Kita harus pandai belajar dari keberhasilan bangsa lain. (Page 79)
Pertanyaan-pertanyaan beliau (Pak Harto) semua saya catat di buku catatan tebal yang berwarna biru abu-abu. (Page 80)
Setelah shalat Isya, kami tidur. Pukul 04.00 pagi kami bangun untuk shalat Subuh. (Page 209)
Saya mencoba memadukan pemikiran saya, visi Pak Harto dan strategi Pak Ibnu, dan akhirnya melahirkan Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan Pertamina (ATTP) yang selanjutnya menjadi cikal bakal Badan Pengkajian dan Penerbangan Teknologi (BPPT) dan IPTN. (Page 107)
Ainun membentuk Majelis Pengajian dengan para ibu. Tiap hari Selasa pada minggu pertama dan kedua tiap bulan, dilaksanakan pengajian dan ceramah mengenai ajaran Agama Islam dan Alquran di rumah kami di Jalan Patra Kuningan XIII No 1 - 3. (Page 129)
Dibalik sukses seorang tokoh tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan yaitu ibu dan isteri. (Page 155)
Mengenal Ainun yang sangat religius dan tiap hari membaca ayat-ayat suci Alquran, (Page 177)
Setelah Pak Harto lengser, tanggal 21 Mei 1998 dan pada saat yang sama saya dilantik menggantikannya, (Page 237)
Menjadi presiden bukanlah segala-galanya, (Page 241)
Semua penghargaan, ucapan duka cita dan simpati yang diberikan oleh seluruh rakyat Indonesia, telah menjadi pelipur duka bagi kami yang di tinggal Ainun di dunia fana ini. (Page 310)
Sampai hari ke-100 Ainun pindah ke "alam dan dimensi baru", tiap hari saya ziarah ke makam Ainun dengan membaca surat Yasin dan tahlil di Taman Makam Pahlawan Kalibata. (Page 311)
Karena "software" manusia adalah "super intelligent" dan memiliki memori yang abadi dan sangat besar, maka kemungkinan besar "software manusia" yang tidak lain adalah jiwa, roh, batin dan nurani atau identitas diri atau pribadi yang bersangkutan, (Page 317)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar