Kalau kita tak optimis menghadapi hidup, bagaimana kita bisa maju? (Page 1)
Ia (Dahlan Iskan) memulai karir sebagai wartawan dari level yang paling bawah. Dan ia juga berangkat dari keluarga miskin di desa. (Page 3)
Ayahnya bercerita bahwa Dahlan Iskan lahir ketika Gunung Kelud meletus. (Page 4)
Keluarga Dahlan tinggal di Dusun Kebondalem, Desa Tegalarum, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. (Page 6)
Dahlan mengaku dirinya adalah produk pesantren dari sebuah pesantren di Magetan, Jawa Timur. (Page 8)
Dahlan menikah dengan Nafsiah dan dikaruniai 2 anak: Azrul Ananda & Isna Fitriana. (Page 8)
Dahlan pindah ke Surabaya karena dipercaya pemilik Majalah Tempo, Eric Samola untuk mengelolah Jawa Pos (Page 8)
Karier Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil (Mimbar Masyarakat) di Samarinda (Kaltim) pada tahun 1975 dengan bekal pendidikan pesantren dan IAIN tapi tak lulus karena kesibukannya di pers kampus. (Page 9)
Sebagai wartawan lokal, Dahlan Iskan menunjukkan prestasi yang luar biasa sehingga berkesempatan untuk hijrah ke Jakarta dan magang di majalah Tempo, (Page 10)
Berita-berita politik Jawa Pos saat itu memang mampu menarik perhatian publik karena selalu disertai analisis para pengamat politik dari universitas-universitas terkenal. (Page 12)
Saat itu belum ada internet sehingga koran bisa berjualan liputan langsung seperti itu. (Page 12)
Di tahun 1997 ia (Dahlan Iskan) berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. (Page 13)
Ia (Dahlan Iskan) tak betah lama-lama duduk di kantor. Ia lebih suka berkeliling dari satu meja ke meja lainnya untuk menghampiri anak buahnya yang sedang bekerja. (Page 14)
Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat, daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. (Page 23)
Tapi jangan salah, meski pendidikan formalnya (Dahlan Iskan) ilmu agama tapi pendidikan informalnya adalah dunia usaha. (Page 36)
TVRI sekarang juga bukan milik pemerintah, tetapi publik. (Page 39)
Dahlan kemudian diangkat menjadi menteri BUMN pada 17 Oktober 2011. (Page 47)
Saya (Dahlan Iskan) tidak berpartai, tidak punya partai, (Page 52)
Beliau (Dahlan Iskan) tidak ingin terlibat dengan politik yang dipikirkannya bekerja dengan baik sehingga bisa memberikan manfaat kepada semuanya, (Page 53)
Untuk memperpendek proses pekerjaan, Dahlan Iskan mengurangi frekwensi rapat tatap muka dan lebih mengitensifkan komunikasi melalui BBM. (Page 103)
Karena masalah politik, tidak ada yang mau memikirkan sawah lagi, (Page 114)
Apa yang dilakukan Dahlan Iskan, mungkin hanya Walikota Solo, Jokowi saja yang bisa menandingi. (Page 125)
Jadi kalau bekerja, orientasinya harus kepada hasil bukan pada proses. (Page 145)
Jadilah miliader dulu, lalu belilah perusahaan penerbangan, anda akan segera jadi jutawan! (Page 153)
Hingga kini harga saham GIAA belum bisa menyamai harga IPO. (Page 158)
"Kalau saya terbang dengan Citilink atau naik KRL dan kereta ekonomi, bukan untuk sok sederhana, melainkan bagian dari keinginan saya untuk menyelami kultur yang lagi berkembang di semua unit usaha (BUMN)," kata Dahlan dalam bukunya, Ganti Hati: Tantangan Menjadi Menteri. (Page 160)
Memteri BUMN Dahlan Iskan mendorong perusahaan "pelat merah" yang memiliki kemampuan keuangan dan kinerja bagus untuk mencari peluang lebih besar dengan melakukan ekspansi ke luar negeri. (Page 163)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar