Mehmet, penguasa ketujuh dari garis keturunannya yang memerintah Turki Utsmani, belum genap 21 tahun saat menaklukkan Konstantinopel yang setelahnya, dengan nama Istanbul, menjadi ibu kota kekaisarannya. (Page XVIII)
Dan dinastinya berkuasa hingga 1923 saat Kekaisaran Utsmani diganti Republik Turki. (Page XVIII)
Satu-satunya kota (Istanbul) di seluruh dunia yang terhampar di atas 2 benua. (Page XVIII)
Sejarah modern dimulai di bawah tekanan kekuasaan Utsmani. (Page XIX)
Putra ketiganya, yang kelak menjadi Mehmet II, dilahirkan di Edirne Sarayi pada 30 Maret 1432 dari seorang selir bernama Huma Hatun. (Page 14)
Sementara itu, putra bungsu Murat, Pangeran Mehmet, hanya sesekali bertemu ayahnya. (Page 17)
Murat menunjuk sejumlah guru pribadi untuk mendidik Mehmet. Pertama adalah Ilyas Efendi, seorang tahanan perang Serbia yang masuk Islam dan menjadi seorang molla, guru teologi. (Page 17)
Akhirnya Mehmet mempelajari sejumlah bahasa asing, filsafat dan geografi, begitu pula sejarah dan sastra Islam, Latin dan Yunani. (Page 18)
Saat menaiki singgasana, usia Mehmet II baru 12.5 tahun, penguasa termuda dari Wangsa Usman hingga saat itu. (Page 22)
Pada 6 Januari 1449 dia (Konstantin) dinobatkan di gereja St. Demetrius di Mistra sebagai Konstantin XI, ditakdirkan untuk menjadi kaisar Byzantium terakhir. (Page 26)
Mehmet menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya pada Januari 1448, saat selirnya, Gulbahar, melahirkan seorang putra, yang dikenal sebagai Beyazit II. (Page 26)
18 Februari 1451, Mehmet ditahbiskan menjadi sultan, satu bulan sebelum ulang tahun kesembilan belasnya. (Page 29)
"Aku lebih memilih melihat serban Sultan di antara kita daripada mahkota Kardinal." Megadux (Duke Agung) (Page 40)
Saat 1452 berakhir, Mehmet menghabiskan seluruh waktunya untuk menggambarkan rencananya mengepung ibu kota Byzantium. (Page 40)
"Mari jangan tunda lebih lama lagi; mari kita serang kota itu secepat mungkin dengan keyakinan ini: bahwa kita akan menaklukkannya dengan satu pukulan atau tidak akan pernah mundur darinya, bahkan bila kita harus mati, sampai kita menjadi penguasa kota itu (Konstantinopel)." Sultan Mehmet (Page 41)
Catatan hariannya (Niccolo Barbaro) memberikan laporan saksi mata yang lengkap atas pengepungan Konstantinopel. (Page 47)
Lalu, sang Sultan masuk ke Kota dan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memerhatikan keluasan, kondisi, kemegahan dan kecantikan, kepadatan populasi, kemolekan, dan kemewahan gereja-gereja dan bangunan umumnya. Saat melihat begitu banyak orang yang terbunuh dan kehancuran bangunan-bangunan itu, ia agak menyesal di atas puing-puing dan rampasan perang. Air mata menetes saat ia merintih dalam-dalam dan berkata dengan penuh perasaan, "Betapa elok kota yang kita rampas dan hancurkan ini." (Page 63-64)
Berjalan di depan 70 atau 80 ribu ksatria muslim, sambil berseru, "Jangan berhenti para penakluk! Alhamdulillah! Kalianlah penakluk Konstantinopel!" (Page 65)
Fatih melaksanakan shalat jumat di masjid itu (Aya Sofya) pada 1 Juni 1453, (Page 66)
"Dia (Mehmet) menjadi begitu kurang ajar setelah penaklukan Konstantinopel sehingga melihat dirinya tak lama lagi akan menjadi penguasa seluruh dunia dan bersumpah di depan umum bahwa dalam waktu kurang dari 2 tahun dia berniat mencapai Roma" Lomellino (Page 71)
Mehmet juga sangat tertarik dengan sastra Persia, khususnya puisi tentang kemistisan Sufi. (Page 77)
"Aku telah melihat sang sultan berdoa di masjid. Dia tidak duduk di sebuah kursi ataupun singgasana tetapi, seperti yang lain, telah memgambil tempat di atas karpet yang dihamparkan di atas lantai." Bapa George dari Muhlenbach (Page 78)
Dia menunjukkan kegigihan dalam semua tindakannya dan keberanian dalam semua kondisi. Dia ingin menyamai kejayaan Alexander Agung, dan setiap hari dia mendengar cerita tentang Romawi dan bangsa-bangsa lain dibacakan kepadanya. (Page 86)
Dia juga menyibukkan dirinya dengan filsafat, yaitu buku-buku filsafat arab, persia, dan yunani, terutama yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Setiap hari dia berhubungan dengan para pimpinan dan guru filsafat, mengelilingi dirinya dengan sejumlah besar orang-orang seperti ini dan mengobrol dengan mereka. (Page 137)
Karena sang Sultan sendiri seorang filsuf paling brilian. (Page 139)
Dia juga mengoleksi beberapa ribu manuskrip, sebagian besar merupakan salinan buku komentar dan tafsir paling langka dan sangat berharga dalam hukum dan agama Islam, dan memerintahkan mereka untuk didistribusikan ke seluruh masjid yang dia bangun sehingga bisa digunakan dan dimanfaatkan para guru yang menetap di masjid-masjid ini. Singkat kata, dia tak melupakan kebaikan yang bisa dia lakukan di dunia ini. (Page 148)
Dia sendiri yang memimpin seluruh pasukannya. (Page 158)
Ketiga putranya kini menjadi gubernur provinsi di Anatolia; Mustafa memerintah di Konya, ibu kota Karaman, sementara Beyazit berada di Amasya, dan Jem di Kastamonu. (Page 194)
Perjanjian Berlin menyebabkan Kekaisaran Utsmani kehilangan sekitar 40% daerahnya (Page 307)
Mehmet V Resat meninggal dunia pada 2 Juli 1918 dan hari berikutnya diganti adiknya, Mehmet IV Vahidettin, ditakdirkan menjadi sultan penghabisan Kekaisaran Utsmani. (Page 309)
Pada 19 Maret 1920, Mustafa Kemal mengumumkan bahwa negara Turki mendirikan parlemennya sendiri di Ankara, Majelis Nasional Agung. Majelis baru itu bertemu untuk pertama kali pada 23 April 1920, memilih Kemal sebagai presiden pertamanya. (Page 311)
Dengan menggunakan kapal perang Inggris HMS Malaya Vahidettin meninggalkan Istanbul pada 17 November 1922. Ia tak pernah kembali. Adiknya, Abdul Mecit II, menggantikannya sebagai khalifah pada 24 November 1922. (Page 312)
Pada 3 Maret 1924, Majelis Nasional Agung mengeluarkan undang-undang yang mengakhiri kekhalifahan, sehingga memutuskan ikatan lemah terakhir yang menghubungkan Turki dengan Kekaisaran Utsmani. Hukum yang sama menurunkan Abdul Mecit sebagai khalifah, dan dia serta semua anggota keluarga dan keturunannya dilarang tinggal di perbatasan Republik Turki. Hari berikutnya, Abdul Mecit meninggalkan Istanbul dan tidak pernah kembali. (Page 313)
Dinasti Utsmani
1. Usman Gazi (seputar 1282-1326)
2. Orhan Gazi (1326-1362)
3. Murat I (1362-1389)
4. Beyazit I (1389-1402)
(Masa peralihan)
5. Mehmet I (1413-1421)
6. Murat II(1421-1444, 1446-1451)
7. Mehmet II (1444-1446, 1451-1481)
8. Beyazit II (1481-1512)
9. Selim I (1512-1520)
10. Suleyman I yang Agung (1520-1566)
11. Selim II (1566-1574)
12. Murat III (1574-1595)
13. Mehmet III (1595-1603)
14. Ahmet I (1603-1617)
15. Mustafa I (pemerintahan pertama) (1617-1618)
16. Osman II (1618-1622)
17. Mustafa I (pemerintahan kedua) (1622-1623)
18. Murat IV (1623-1640)
19. Ibrahim (1640-1648)
20. Mehmet IV (1648-1687)
21. Suleyman II (1687-1691)
22. Ahmet II (1691-1695)
23 Mustafa II (1695-1703)
24. Ahmet III (1703-1730)
25. Mahmud I (1730-1754)
26. Usman III (1754-1757)
27. Mustafa III (1757-1774)
28. Abdul Hamid I (1774-1789)
29. Selim III (1789-1807)
30. Mustafa IV (1807-1808)
31. Mahmud II (1808-1839)
32. Abdul Mecit (1839-1861)
33. Abdul Aziz (1861-1876)
34. Murat V (1876)
35. Abdul Hamid II (1876-1909)
36. Mehmet V Resat (1909-1918)
37. Mehmet VI Vahideddin (1918-1922)
38. Abdul Mecit II (hanya sebagai Khalifah) (1922-1924) (Page 353)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar