Saya merasa tua untuk membaca komik. Akan tetapi tatkala saya duduk di kelas 8, seorang teman (yang jauh lebih pintar) meyakinkan saya untuk melihat komik dengan perspektif lain dan ia meminjamkan koleksi komiknya. Sejak itulah saya keranjingan komik! (Page 2)
Kurang dari setahun, saya sungguh tergila-gila pada komik! Di kelas 10, saya memutuskan untuk menjadi komikus dan mulai berlatih, berlatih, berlatih! (Page 3)
Seperti Dave McKean, selalu berubah, bereksperimen, berani mengambil risiko, dan tidak pernah puas. (Page 56)
Agar dapat mematangkan dirinya sebagai suatu media, maka komik harus dapat mengekspresikan kebutuhan dan gagasan terdalam setiap seniman. Setiap seniman memiliki kebutuhan jiwa, pandangan, dan hasrat yang berbeda, karenanya memerlukan bentuk ekspresi yang berbeda pula. (Page 57)
Salah satunya adalah Televisi, yang telah merasuk ke dalam kehidupan seluruh manusia di dunia, dan baik maupun buruk, telah mengubah jalur kehidupan manusia hingga kiamat. Nasib media lainnya, Komik - masih merupakan misteri. (Page 59)
Dalam dunia yang tidak sempurna, kita harus bertumpu pada 'closure' untuk melangsungkan hidup. (Page 63)
Kebanyakan komik Jepang mulai dimuat dalam majalah kumpulan komik, sehingga tidak ditekan untuk menampilkan banyak "kejadian" seperti pada penerbitan 1 judul komik. Ketika karya-karya perorangan itu dikumpulkan, hasilnya bisa mencapai ribuan halaman. (Page 80)
Di Jepang, komik merupakan kesenian, lebih daripada negara lain. (Page 81)
Komik menawarkan sumber daya yang sangat besar bagi semua penulis dan seniman: kesetiaan, kontrol, kesempatan untuk didengar secara luas tanpa ada kompromi. Komik juga menawarkan jangkauan dan kecakapan film dan lukisan ditambah kedekatannya dengan tulisan. (Page 212)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar